Mengulas Film Everest

  1540568900_B976433644Z.1_20150902191623_000_GFM54314E.2-0

  Judul Everest, yang notabene nama puncak tertinggi di dunia, mengesankan bahwa film garapan Baltasar Komákur ini haruslah tampil megah dan grand. Apalagi, film ini menampilkan aktor-aktris Hollywood bereputasi tinggi, dan mengangkat sebuah peristiwa nyata tentang tragedi yang melanda sejumlah pendaki Everest pada tahun 1996. Dengan demikian, tak salah bila timbul ekspektasi bahwa mungkin film ini akan lebih engaging dari film-film bertema serupa yang kisahnya fiktif, seperti Cliffhanger (1993) atau Vertical Limit (2000). Tetapi, kenyataannya tidak selalu demikian.

  Film “Everest” 2015 ini menceritakan petualangan pendakian di Gunung Everst yang di ambil dari sebuah kisah nyata saat sekelompok orang mendaki mouth Everst pada tahun 1996, ketika saat pendakian sebuah badai salju menerjang dan menghalangi laju pendakian mereka, ada beberapa orang yang tidak bisa menghindar dari terjangan badai salju tersebut, yang mengakibatkan beberapa dari mereka tewas.

  Akan tetapi yang selamat tetap melanjutkan pendagian gunung Everest tersebut, walaupun harus melawan es yang jatuh, melalui jurang dengan gemetar, menaiki puncak berbahaya, tebing yang menjulang, melalui penyelamatan mengerikan oleh sesama pendaki gunung, dan juga harus memasuki zona bahaya mistis pada ketinggian, dengan oksigen yang menipi. Para pendaki dan tim kamera tetap menjaga semangat dengan tekad, optimisme dan persahabatan, semua yang telah mereka lakukan berhasil dan akhirnya mereka sampai di puncak Mount Everst tersebut

  Tahun 1996 memang menjadi tahun yang kelam dalam sejarah pendakian Everest. Di musim pendakian, sekian puluh rombongan ingin menggapai puncak, mulai dari kelompok yang dipimpin Rob Hall, Adventures Consultant. Scott Fischer yang memimpin grup Mountain Madness. Hingga kontingen negara seperti Taiwan dan Afrika Selatan, semuanya berlomba untuk menggapai puncak tertinggi di dunia.

  Dari sinilah inti film dimulai, banyaknya tim yang ingin menggapai puncak, tergambar dari riuhnya Everest Basecamp. Munculnya konflik satu sama lain yang membuat infrastruktur banyak yang terlupa untuk disiapkan, badai yang tiba-tiba datang dan banyaknya korban saat pendakian, terbanyak dalam setahun di dekade tersebut. Tragedi Everest 1996 inilah yang membuka mata dunia tentang komersialisasi gunung.

  Ya, dari apa yang Toli, panggilan Anatoli di film tersebut memang benar adanya. Manusia tak bisa menang dari gunung, memang gunung bisa ditaklukkan sampai puncak, namun demikian dalam segala hal, manusia harus berkorban banyak hal untuk mencapai puncak.

  Salah satu scene ketika Rob Hall memimpin pendakian di Film Everest. source : mmc-news.com

  Salah satu scene ketika Rob Hall memimpin pendakian di Film Everest. source : mmc-news.com

  Alur film ini dibangun dengan ego masing-masing, ego untuk menggapai puncak Everest dengan berbagai tujuannya. Ada yang ingin memotivasi anak-anak di kampungnya, ada yang ingin mencapai 7 puncak dunia untuk menggenapi 6 yang sudah dicapai sebelumnya, ada yang mencari kedamaian. Semua menuju puncak Everest dengan ego masing-masing.

  Ada 2 ego besar yang bisa disimak di film ini. Ego Doug Hansen yang harus mencapai puncak Everest di tahun 1996 dan ego Scott Fischer yang memaksakan untuk turut menggapai puncak di tanggal 10 Mei 1996, tanggal yang menjadi latar utama film ini. Kedua ego ini coba diredam Rob Hall, yang menjadi protagonis di film ini. Namun Rob gagal meredam ego tersebut, turut larut dalam ego dan akhirnya tragedi terjadi.

  Ego memang masalah utama dalam pendakian gunung. Bagaimana tidak, ego untuk mencapai puncak tertinggi di dunia tentunya mengundang banyak orang untuk datang. Gunung yang dulunya didaki oleh pendaki profesional, karena efek komersialisasi mulai bisa didaki oleh siapa saja.

 Adegan menyentuh, mengaduk-aduk emosi sekaligus mengesalkan adalah ketika Toli meminta Krakauer membantu mengevakuasi para pendaki yang tersesat menuju Camp. Alih-alih membantu, Krakauer justru berdalih tidak bisa melihat dan melanjutkan tidurnya di tenda yang dingin. Akhirnya Toli bersusah payah sendiri mengevakuasi para pendaki tersebut.

  Dengan jeli film ini menunjukkan bagaimana film ini memberikan gambaran bagaimana sifat manusia ketika di gunung. Objektifitas penonton juga dibenturkan, antara melihat Krakauer yang mementingkan keselamatan diri sendiri atau turut menyelematkan orang lain. Namun setelah buku Krakauer terbit, Into Thin Air dan ditanggapi dengan buku The Climb oleh Toli, kelak keputusan Krakauer untuk tidak membantu Toli ini dikritik banyak orang.

  Kritik terhadap komersialisasi Everest memang muncul pasca tragedi tersebut. Banyak yang kemudian menyalahkan tour operator seperti yang Adventures Consultant atau Mountain Madness yang membuat Everest kemudian menjadi gunung yang sesak pendaki.

  Majalah National Geographic Indonesia edisi Juni 2013 pernah menerbitkan liputan khusus tentang sesaknya Everest. Komersialisasi membuat orang-orang berbondong-bondong menggapai puncak Everest. Tercatat karena banyaknya rombongan para pendaki harus antri di Hillary Step selama dua jam sebelum menggapai puncak. Ada 2 sisi mata uang dalam komersialisasi gunung, perekonomian Nepal yang meningkat dari wisata gunung atau sebaliknya alam yang lara karena banyaknya pengunjung, termasuk karena limbah yang dihasilkan oleh pendaki.

  Dalam satu adegan di mana Rob Hall mengambil sampah yang dibuang begitu saja oleh para pendaki, film Everest memberi kritik bagaimana sampah mulai meracuni alam Everest. Dan rasanya tak hanya Everest, banyak gunung yang kemudian terkena imbas komersialisasi, terjepit antara kepentingan ekonomi dan ketidaktegasan regulasi, terutama di Indonesia.

  Jika diamati benar, film ini memberikan banyak sekali insight tentang naik gunung, teknik pendakian, teknik survival, teknik persiapan sampai manajemen pendakian. Seharusnya para penonton tidak hanya terkagum-kagum menyimak bagaimana gagahnya Everest dan berbungah hati ingin mendaki, simak juga bagaimana detail dan rapinya pembagian tugas yang dilakukan dalam pendakian. Ya, karena pendakian itu tak semata soal menggapai puncak.