Rabun dekat

   Hipermetropi atau rabun dekat adalah kelainan refraksi mata di mana bayangan dari sinar yang masuk ke mata jatuh di belakang retina. Hal ini dapat disebabkan karena bola mata yang terlalu pendek atau kelengkungan kornea yang kurang. Penderita kelainan mata ini tidak dapat membaca pada jarak yang normal (30 cm) dan harus menjauhkan bahan bacaannya untuk dapat membaca secara jelas. Penderita juga akan sulit untuk melakukan kegiatan yang membutuhkan ketelitian tinggi. Perbaikan penglihatan dapat dilakukan dengan memakai kacamata dengan lensa sferis positif (cembung).

   Rabun dekat umumnya terjadi pada orang yang berusia di atas 40 tahun akibat berkurangnya kemampuan mata seiring bertambahnya usia. Namun sebagian kecil anak-anak juga bisa terlahir dengan kondisi ini.

  Lensa mata anak-anak lebih fleksibel dibandingkan dengan orang dewasa, jadi biasanya anak-anak yang menderita rabun dekat tidak selalu memiliki masalah dengan penglihatan mereka. Namun rabun dekat pada anak-anak harus segera diatasi karena bisa menimbulkan komplikasi, seperti mata malas (amblyopia) atau mata juling (strabismus). Periksakan kondisi mata anak Anda ke dokter untuk mengetahui apakah ada masalah pada penglihatannya.

Berikut adalah beberapa gejala rabun dekat.

  1. Sakit kepala.
  2. Harus mengerlingkan mata untuk melihat dengan jelas.
  3. Mata berair atau berwarna kemerahan.
  4. Kesulitan untuk membaca.
  5. Mata terasa lelah usai fokus melihat objek dekat, seperti menggunakan komputer atau membaca.
  6. Objek jauh terlihat jelas, tapi objek dekat tampak tidak fokus dan buram.

   Rabun dekat terjadi karena cahaya yang masuk ke mata tidak terfokus di dalam retina, tapi terfokus di belakangnya. Hal ini terjadi karena kornea terlalu datar atau kurang melengkung, lensa yang kurang tebal, dan bola mata terlalu pendek.

   Lensa mata mencoba memperbaiki masalah pembiasan yang terfokus di belakang retina dengan cara menjadi lebih tebal. Namun pada penderita rabun dekat, hal ini tidak cukup efektif. Hasilnya penglihatan akan menjadi buram karena cahaya tidak bisa terfokus dengan benar.

Faktor Resiko Rabun Dekat

  1. Pengaruh Genetika, Sebagian Kasus Penyakit ini disebabkan oleh keturunan / diwariskan
  2. Penyakit terkait Seperti Tumor Disekitar mata
  3. Akibat adanya permasalahan pada pembuluh darah diretina
  4. Syndrom Mata kecil, atau akibat tidak sempurnanya pertumbuhan dan perkembangan mata semenjak bayi saat masih dalam kandungan
  5. Bagian dari Komplikasi Penyakit Diabetes
  6. Dan bisa juga akibat trauma yang parah pada mata yang menyebabkan kerusakan pada kornea.
  7. Yang terakhir dan paling sering adalah Pengaruh Usia, Sering terjadi pada usia 40 tahun, yang disebabkan oleh menurunnya fungsi penglihatan akibat bertambahnya usia. walaupun demikian anak-anak juga ada yang menderita rabun dekat.

   Berbeda dengan orang dewasa dimana lensa mata sudah sedikit lebih kaku dari Pada anak-anak lensa mata masih lebih fleksible, sehingga rabun jauh jarang terjadi pada anak-anak, Tetapi wajib hukumnya memeriksa mata untuk mengetahui ada atau tidaknya gangguan penglihatan pada anak-anak. terutama rabun jauh.

  Rabun dekat bisa dicegah atau dihambat perkembangannya dengan cara melakukan beberapa hal berikut:

  1. Melakukan latihan mata setiap hari, seperti melihat berbagai objek pada jarak yang berbeda (jauh dan dekat secara bergantian), mengedipkan mata secara normal (tidak terlalu cepat dan lambat), menutup mata dengan telapak tangan, serta melihat benda bergerak. Hal ini untuk melatih kornea mata agar bisa lentur. Kurangi waktu melihat layar ponsel atau komputer, terutama saat didalam tempat yang gelap.
  2. Mengonsusmi sayuran dan buah-buahan bergizi, terutama yang bermanfaat menunjang penglihatan seperti, salmon, alpukat, bawang putih, bawang merah, telur, bayam, wortel, jeruk, sayuran berdaun hijau, dan lain-lain. Baca juga : Buah sayuran untuk kesehatan mata
  3. Nikmatilah pemandangan alam yang luas dan hijau. Anda mungkin harus sering bepergian ke pegunungan untuk melihat pohon-pohon hijau, atau pulang ke desa kampung halaman untuk melihat persawahan. Selain itu, pemandangan laut yang luas juga bisa mengurangi mata minus.
  4. Menggunakan kacamata dengan lensa terpolarisasi adalah terapi yang sangat bagus untuk mengurangi silau.